Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2014

Kebijaksanaan Mencintai

Anyone can love a rose
but it takes a great deal to love a leaf
it's ordinary to love the beautiful
but it's beautiful to love the ordinary

Semua orang dapat mencintai setangkai mawar 
namun butuh usaha luar biasa untuk mencintai sehelai daun
Mencintai hal yang indah itu sangat biasa
namun mencintai hal yang biasa itu baru indah

by. Eva

Senin, 03 Juni 2013

Walau apapun kita..


Memiliki sebuah jabatan adalah sebuah amanah . Sebagian orang meminta jabatan, jika kita tahu akan beratnya amanah tersebut maka tak seorangpun yang menginginkanya.  karena tanggung jawabnya bukan hanya di dunia tetapi juga kelak di akhirat.

Menjalankan kebaikan-kebaikan setelah mendapat amanah memang tidak salah,  tapi kalau yang demikian memilki niat ‘tersembunyi’ maka itulah masalahnya. Ada orang yang sebelum mendapatkan jabatan ia tidak mau berbuat apa-apa, hanya menunggu dan menunggu... Namun begitu mendapat jabatan ia baru berbuat.

Ibarat kita menjadi rumput,  kita bisa menyerap air yang ada di tanah, menjadi akar kita bisa menguatkan pohon, menjadi sebuah batang kita bisa menjadi penyanggah ataupun kita laksana daun yang memberikan kerindangan. Itulah seharusnya diri kita, mau jadi apapun kita, harusnya kita bisa memberikan kontribusi.

Allah tidak memandang siapa kita,  apakah kita orang kaya ataupun miskin. Allah tidak melihat itu semua. Tetapi yang menjadi perhatian Allah adalah amal sholeh kita (tentunya dengan niat ikhlas) ,seberapa banyak amal-amal kebaikan yang kita miliki itulah menjadi tabungan kita di akhirat kelak, jadi…. jangan menunggu kita menjadi siapa, tapi mulailah berbuat. Walau apapun kita..

Riswanto (Wa.Kepsek/ Guru IPA SMP IT Ash-Shiddiq)

Rabu, 29 Mei 2013

Kita bukan pengikut Nietzce !

Barangsiapa meninggalkan ucapan yang tidak perlu, maka dia akan diberi hikmah. Begitulah kalimat Umar Bin Khattab. Sederhana, tapi tidak mudah untuk diaplikasikan. Terkadang kita memang lebih suka memperkerjakan lisan daripada kedua telinga. Kita lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Memang, Berbicara itu menyenangkan!
Ada banyak peristiwa di sekitar kita, bermula dari ucapan. Perselisihan, salah paham, perbedaan dan beragam peristiwa lain. Karena begitulah hidup, beragam, terdiri dari berbagai macam sifat, tidak mungkin kalau harus memaksakan kehendak hanya untuk sama.
Pada banyak peristiwa itu, peran yang seharusnya dimainkan oleh manusia adalah tidak menjadikan kerikil menjadi sebuah batu besar, apalagi membuatnya nampak seperti gunung. Perselisihan kecil, tak perlu dibesar-besarkan. Perbedaan besar, jangan pula diapi-api sehingga membakar.
Tapi kadang, kita memang sering tergoda untuk berlebihan. Dan bisa jadi saya sendiri sering terjebak dan lalai, melakukannya.
Sekali lagi, Berbicara memang menyenangkan, terlebih bila dibumbui dengan ketidak benaran. Mungkin itulah yang terjadi pada kehidupan kita sekarang, kebohongan merebak dimana-mana. Begitulah yang terjadi bila masyarakat dibiarkan belajar kepada selain Islam, seperti kata Frederich Nietzche, dia mengatakan, bagaimanapun kebohongan adalah sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan. “Lies are necessary to life,” begitu kata Nietzche.
Tetapi, kita harus tegaskan pada diri kita bahwa Kaum Muslim itu tak mengikuti Nietzche, Kita bukan pengikut Nietzce!
Mari mengingat kisah tentang Ka’ab bin Malik yang tak turut dalam perang Tabuk. Dalam kitab Riyadhus Shalihin diriwayatkan, Ka’ab sendiri berkata, “Aku tak pernah menemukan diriku sesiap ini, aku tidak pernah menemukan diriku sekuat ini.” Ia merasa sangat siap dan kuat untuk berangkat ke perang Tabuk. Tapi perjalanan perang itu ia tunda-tunda, dan akhirnya ia batal untuk bergabung dengan pasukan Muslimin lainnya.
Ketika Rasulullah dalam perjalanan pulang ke Madinah, hatinya berdebar-debar. Mempersiapkan alasan-alasan yang akan ia jadikan hujjah mengapa tak turut berjuang di jalan mulia. Segala alasan telah ia kumpulkan, “Aku adalah lelaki dengan lidah yang tajam. Niscaya jika aku kemukakan alasan, Rasulullah akan menerimanya.” Persiapan kebohongan itu, ternyata tidak membuatnya bahagia. Akhirnya Ka’ab berterus terang, ia tak punya alasan ketika tak turut berperang.
Andai saja ia dusta, tentu ia tak dihukum demikian rupa. Selama berhari-hari ia dikucilkan, bahkan oleh istrinya sendiri. Tatapan matanya tak pernah bertemu dengan tatapan mata Rasulullah, lelaki yang paling dicintainya. Salamnya tak pernah dibalas oleh penduduk Madinah. Bumi yang luas, ia rasakan menjadi sempit menghimpit. Itulah yang harus dibayar untuk sebuah kejujuran.
Tapi ketika firman Allah turun, “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. at Taubah:118)
Ka’ab belum pernah merasakan hatinya bahagia, seperti kebahagiaannya saat ayat ini diturunkan sebagai tanda penerimaan atas taubatnya.
Apakah kita akan menukar ridha Allah dengan ucapan yang terus kita ada-adakan dalam kehidupan kita? Mungkin saat ini kita bahagia, tapi tak akan ada manusia yang mampu menipu dirinya sendiri, terlebih menutupi kebohongannya di depan Allah Subhanahuwata’ala.

Ustadzah Rukoyyah
(Guru Kuttab Al-Fatih Depok)

Rabu, 01 Mei 2013

Menjadi Sang Pembelajar

 Oleh : Riswanto, SE, MM (Guru IPA/ Wakil Kepala Sekolah)

Setiap orang pasti tahu apa itu belajar namun tidak setiap orang memahami makna dari kata belajar. Memang tidak salah kalau ada yang bilang sekolah itu belajar, tapi yang harus kita pahami bahwa belajar itu tidak harus sekolah, maksudnya kita juga dapat belajar di manapun kepada siapapun dan kapan pun,belajar menembus ruang dan waktu,tidak harus ada meja dan bangku atau ada orang yang memberikan materi belajar,dapat saja kita belajar dari alam mengenai kehidupan.
Apa sebenarnya makna dari kata belajar itu? belajar dapat diartikan mengetahui dari yang tidak tahu menjadi tahu atau yang tidak bisa menjadi bisa,tapi teramat disayangkan masih banyak orang-orang yang tidak dapat memanfaatkan umurnya untuk belajar. Masa mudanya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, masa tua yang ada tersisah dihabiskan untuk istirahat, sungguh memprihatinkan.
Orang –orang yang selalu belajar memang tidak banyak , mereka yang menghabiskan waktunya untuk mendalami ilmu yakin bahwa dengan ilmulah mereka bisa menjadikan dunia lebih terang dan hidup lebih bermanfaat. Hakikat belajar bukanlah terbatas dengan umur, seseorang yang sudah lanjut usia berpikir bukan saatnya lagi untuk belajar. Padahal semakin tua umur kita seharusnya bertambah ilmunya, untuk itulah kita harus meubah pola pikir kita bahwa belajar itu harus kita lakukan selama kita masih bernafas.
Orang-orang yang berhenti belajar adalah sebagai pemilik masa lalu dan orang-orang yang selalu belajar adalah pemilik masa depan, itulah yang orang bijak katakan dan memang benar adanya berhenti belajar berarti kita menutup wawasan kita untuk masa depan, hanya ilmu yang  sebelumnya saja yang kita miliki, karena pada hakikatnya ilmu itu akan terus berkembang selamanya. Orang-orang yang tidak berilmu akan tertinggal oleh zaman, karena zaman akan senantiasa berkembang.
Sejarah telah membuktikan bahwa generasi pembelajar akan senantiasa menjadi orang yang cemerlang dalam pemikiran dan terbukti lebih mampu menjalani kehidupan bahkan merubah kehidupannya menjadi lebih baik.
Barang siapa yang ingin mengusai dunia maka dengan ilmu dan barang siapa yang ingin menguasai akhirat maka dengan ilmu dan barang siapa yang ingin menguasi keduanya maka juga dengan ilmu.
Mudah-mudahan kita menjadi orang –orang yang tidak pernah bosan dalam belajar.


silahkan kunjungi blog pribadi Riswanto 
 

Senin, 15 April 2013

Sebelum taklukan UN, taklukanlah diri sendiri !


Siap tidak siap, mau tidak mau, UN sudah di depan mata.  Kurang dari 1 minggu hajat Nasional itu akan kalian hadapi.  Tidak ada yang perlu dicemasi.  Soal-soal UN bukanlah soal Ujian dari negeri antah berantah atau dari planet lain yang kalian sama sekali asing dengannya, bukan. Bahkan kalian sudah sangat akrab dengan type soal-soal UN, melalui Try Out yang sudah kalian hadapi berkali-kali. 
Nahh..apa yang harus kalian lakukan temans,  ketika UN tinggal sebentar lagi?
belajar dengan sungguh-sunggh... itu sudah pasti...
Tapi ada hal yang lebih penting dari itu, yang jika kalian bisa melakukannya maka UN kalian akan sukses. Apa itu ? oke temans, silahkan baca sampai habis tulisan cinta dari saya (Aqil El Banna) untuk kalian yang sebentar lagi akan menantang UN  khususnya untuk kalian anak-anak kelas IX SMP IT Ash-Shiddiq :)
Ketika kita sedang berjuang, ada saja ujian yang datang untuk melemahkan semangat perjuangan kita. Ujian itu biasanya datang dari 2 hal. Pertama, ujian yang berasal dari luar diri kita. Lagi serius-seriusnya belajar untuk persiapan UN, tiba-tiba teman datang mengajak kita untuk Nongkrong, main ke warnet. Lagi sibuk-sibuknya untuk persiapan UN, ada saja yang SMS/BBM/Twet yang aneh-aneh ke HP kita, lagi semangat-semangatnya belajar di rumah, tiba-tiba orang tua marah-marah,  akhirnya…Galau, kesel, bt, dan rasa-rasa lain jadi kambuh. Buyar dah konsentrasi kita.  Kedua, ujian yang berasal dari dalam diri kita sendiri.  Mendekati UN, kita masih saja malas, nggak punya semangat untuk belajar, putus asa, merasa tidak mampu menghadapi UN, merasa tidak punya masa depan. Gawat kan jika hal-hal ini datang bersamaan menjelang UN. Bisa-bisa UN akan menjadi moment terburuk dalam hidup kita...waduh,  apa kata dunia !
Semua ujian itu sebenernya saling terkait. Namun ada yang harus kita taklukan terlebih dahulu. Agar kita lebih kokoh dan tidak cemen saat datang ujian. Ada sebuah pepatah berbunyi, " Sebelum kita menaklukan musuh taklukanlah diri kita terlebih dahulu". Berbeda jika kita memiliki musuh yang nampak di depan mata yang bisa kita lawan dengan berbagai cara secara langsung. Musuh yang nampak akan lebih mudah untuk dikalahkan daripada musuh yang tidak nampak, dan musuh yang tidak nampak adalah diri kita sendiri . Jika kita sudah bisa menaklukan diri kita, maka ujian seberat apa pun akan mampu kita lewati.  Jika kita sudah mampu mengendalikan diri kita, maka saat UN tiba, cool ajaaa, bagitu kata pak Mario Teguh ( pada nonton ga acaranya di Metro TV tadi malam :)).  Jika engkau mendengar suara dalam diri,  “kamu tidak bisa”, maka bergegaslah jawab, “AKU BISA “  Kita harus mulai dari diri sendiri dulu, mulai dari sekarang !
Terakhir, jangan pernah lupa kalau kita punya Allah. Setelah kita berusaha, serahkan semuanya kepada Allah. Ketuklah pintu Rab-mu ketika marah, membenci sesuatu, jiwa tergoncang dan jiwa labil..ikhlaskan dan bertawakallah kepada-Nya.
 “…Dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat allah (zikrullah). ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram (QS Ar-Ra’d (13) : 28)

Keep fight, 

Aqil El Banna

Senin, 04 Maret 2013

Pendidik seperti Sholeh bin Kaisan (Pencetak Umar bin Abdul Aziz)

Kebesaran seorang pendidik bisa dilihat dari hasil didikannya. Dunia hingga hari ini belum bisa menduplikat pemimpin sesholeh dan sehebat Umar bin Abdul Aziz. Dia adalah hasil dari perjalanan panjang sebuah pendidikan.
Agar kita sadar bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah karya besar para pendidiknya, perlu diketahui beberapa hal,
  1. Ayah dari Umar yaitu Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang Gubernur Mesir yang bertugas lebih dari 20 tahun. Sementara Umar bin Abdul Aziz besar dan menuntut ilmu di Madinah, kota kelahirannya. Jadi keberadaan anak dan orangtua yang berjauhan jelas memerlukan pengasuhan para pendidik yang istimewa.
  2. Umar bin Abdul Aziz bukan anak yang sudah mudah diatur sejak awal. Ada beberapa kisah di masa kecilnya Umar yang menunjukkan bahwa gaya seorang anak pejabat begitu lekat pada dirinya. Seperti menghabiskan waktu untuk bersolek yang mengakibatkan terabaikannya kewajiban.
Juga kisah berikut ini,
Suatu saat Umar bin Abdul Aziz ditanya: Bagaimana kisah pertama kali kamu menjadi baik?
Umar bin Abdul Aziz menjawab: Suatu saat saya ingin memukul pembantu saya. Dia berkata kepada saya (Hai Umar, ingatlah suatu malam yang paginya adalah hari kiamat)
Artinya, Umar bin Abdul Aziz yang memang cerdas dan sesungguhnya sangat bersemangat belajar sejak awal usianya, juga mempunyai celah-celah diri yang memerlukan seorang pendidik yang mampu mengubahnya menjadi ledakan potensi yang dahsyat.
Salah seorang pendidik Umar bin Abdul Aziz yang langsung diserahi oleh ayahnya adalah seseorang yang bernama: Sholeh bin Kaisan.
Kita harus mengenal Sholeh bin Kaisan. Sebagai petunjuk bagi para pendidik atau pengasuh generasi yang diserahi amanah untuk mendidik anak orang lain. Beginilah pendidik yang berhasil melahirkan pemimpin fenomenal tiada duanya di bumi ini!
Sholeh bin Kaisan sebenarnya tadinya hanya seorang maula (mantan budak yang dibebaskan) Bani Ghifar. Tapi begitulah, ilmu dan iman mengangkat seseorang. Hingga para ahli sejarah dan ulama seperti adz-Dzahabi (dalam Siyar a’lam an Nubala’ dan Tadzkiroh al Huffadz) menyebut Sholeh bin Kaisan sebagai berikut:
Al Imam, Al Hafidz, Ats Tsiqoh, salah satu ulama besar hadits. Sholeh mengumpulkan ilmu hadits, fikih dan muruah (kewibawaan menjaga kehormatan diri).
Dia adalah salah seorang ulama besar Kota Madinah.
Sebutan Imam, Hafidz, Tsiqoh adalah merupakan sebutan para ahli hadits yang menunjukkan tingkatan ilmu yang sangat tinggi dan amanah serta kesholehan yang tidak diragukan.
Dari semua sifat mulia inilah maka para pendidik hari ini bisa belajar. Bahwa seorang pendidik harus benar-benar menghiasi dirinya dengan berbagai sifat mulai tersebut. Setidaknya ada 3 sifat yang ada pada gelar-gelar bagi Sholeh bin Kaisan, yang harus ada pada sifat para pendidik hari ini:
a. Ilmu yang mumpuni
b. Kesholehan yang tidak diragukan
c. Muruah (sebuah sifat yang menjaga seseorang dari rusaknya citra, walau hal tersebut bukan dosa)
Sholeh bin Kaisan diberikan Allah usia yang panjang. Menurut sebagian riwayat, Sholeh meninggal dengan usia lebih dari 100 tahun. Meninggal setelah tahun 140 H.
Dengan usia yang panjang itulah, dia bisa menyaksikan hasil didikannya yaitu Umar bin Abdul Aziz saat menjadi Khalifah hingga Umar meninggal tahun 101 H.
Umar bin Abdul Aziz yang telah merasakan hasil didikan dalam dirinya yang telah ditempa oleh Sholeh bin Kaisan, maka Umar juga menitipkan anak-anaknya agar dididik juga oleh Sholeh bin Kaisan.
DR. Ali Ash Shallaby menjelaskan hal ini,
“Seorang guru atau pendidik terhitung sebagai salah satu ruang sudut dalam proses pengajaran. Umar bin Abdul Aziz telah memilih pendidik bagi anak-anaknya dari orang terdekatnya, sangat dikenalnya dan sangat dipercayainya.” (Lihat buku: Umar ibn Abdil Aziz)
Orang itu adalah Sholeh bin Kaisan. Penjelasan ini selain menjadi pelajaran bagi para pendidik, juga menjadi wejangan bagi para orangtua yang mau menitipkan anak-anaknya dalam pendidikan. Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang ayah menitipkan pendidikan dan pengasuhan anaknya kepada orang yang dikenalnya betul dari semua sisi juga sangat dipercayainya.
Para pendidik –arsyadakumullah (semoga Allah membimbing antum semua)-, menjadi guru ataupendidik generasi bukanlah sekadar sebuah profesi yang dengannya seseorang mendapatkan uang. Tetapi ini adalah amal mulia yang membanggakan di sisi Allah.
Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan. Seorang pendidik dengan keilmuwan yang tak diragukan. Jangan berhenti belajar ketika telah menjadi guru. Karena inilah masalah yang sering dijumpai dari para guru. Peningkatan ilmu hampir tidak terlihat saat telah menjadi seorang guru.
Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan. Seorang pendidik dengan kesholehan diri yang tidak meragukan lagi. Karena anak didik kita tidak hanya mendengarkan ilmu yang disampaikan. Tetapi juga melihat gerak-gerik para guru. Kesholehan guru adalah sesuatu yang tidak terajarkan tetapi tertanamkan pada anak. Inilah bahayanya para pendidik dengan ketidakjelasan moral. Bagaimana jadinya generasi ini, tanpa pendidik yang sholeh.
Belajarlah dari Sholeh bin Kaisan. Seorang pendidik yang menghiasi dirinya dengan kewibawaan seorang ahli ilmu. Dia menjaga dirinya bukan saja dari dosa. Tetapi juga dari berbagai hal yang akan mencederai kewibawaan dirinya sebagai ahli ilmu. Bisa jadi bukan dosa, tetapi karena perbuatan itu maka jatuhlah harga diri seorang guru. Maka apalah jadinya anak-anak, jika para pendidik telah jatuh harga dirinya di hadapan orangtua murid dan anak-anak.
Dicari pendidik seperti Sholeh bin Kaisan!
Untuk melahirkan anak didik seperti Umar bin Abdul Aziz!

sumber : parentingnabawiyah.com